Alkisah di negeri Damai. Sebuah negara utopia yang terletak jauh di palung angan-angan manusia normal. Sebuah negara yang notabene “DAMAI”, dalam arti yang sebenarnya. Tidak ada permusuhan walau senantiasa bersebrangan, tidak ada perseteruan walau selalu bertentangan, apalagi peperangan walau sering saling berlawanan. Semua menerima secara sepakat untuk selalu tidak sepakat, karena semua elemen menyadari bahwa apapun yang diperjuangkan, apapun yang dipertaruhkan dalam setiap perbedaan tidaklah lebih berharga jika dibanding dengan harga sebuah “KEDAMAIAN”.
Namun kemudian suatu bencana besar muncul ketika tiba-tiba kata “MAAF” tidak lagi bisa diucapkan. Tidak seorangpun yang mampu untuk mengucapkan kata yang sangat berharga itu. Para pakar telah berulangkali berkumpul, saling mengemukakan pendapat dan melakukan penelitian. Tidak hanya pakar komunikasi, tetapi juga pakar kedokteran, agama hingga para dukun-dukun dan peramal. Semua kemampuan ilmiah atau non ilmiah, rasional atau irrasional telah dikerahkan secara maksimal, tetapi kata “M” itu tetap tidak bisa dikembalikan. Tuhan telah mengutuk negara Damai dengan menarik kata “M” dari mereka.
Akhirnya dilakukan rapat gabungan antara kabinet pemerintahan, parlemen, dewan pakar dan tokoh masyarakat. Presiden Kedamaian membuka rapat dengan menyimpulkan kenyataan pahit bahwa Tuhan telah mencabut kata “M”. Ini masalah besar, kata “M” menduduki peranan yang sangat penting dalam sebuah kedamaian, ini bencana nasional.
Jenderal Keamanan sebagai panglima tertinggi serdadu menyampaikan bahwa kecemasannya akan terjadinya perpecahan bangsa; Komisaris Besar Ketertiban menyampaikan kekhawatirannya akan terjadinya peperangan antar warga. Bersama itu juga dikemukakan bahwa rakyat mulai ketakutan, kemarahan warga negara meningkat tajam dan pertengkaran mulai bermunculan. Perbedaan, pertentangan, pelawanan telah ada sejak dahulu, dan ini adalah kutukan Tuhan pertama, Selama ini kata“M”-lah yang menjadi peredam semua itu.
Mencoba untuk menengahi, Presiden Kedamaian mengajak semuanya utuk tidak lagi saling menambah kecemasan yang memang telah menyusup di hati masing-masing. “Sekarang ini solusinya yang harus dicari, cukuplah rakyat banyak itu yang berbicara tentang akibat-akibat dari bencana ini, kita bicarakan sebab-sebab dan jalan keluarnya. Untuk itu kepada yang hadir untuk menyampaikan idenya demi lestarinya kedamaian, tanpa kedamaian, negara ini juga akan tiada”.
Professor Kesejahteraan : “Kesejahteraan adalah kunci dari kedamaian, bahkan Tuhanpun telah mengakui hal ini ketika NabiNya menyatakan bahwa kemiskinan dekat dengan kekufuran, oleh sebab itu maka tiadanya kata “M” tidaklah terlalu menjadi masalah, sepanjang rakyat ini sejahtera maka kita akan hidup dengan rukun dan damai”.
Tapi dengan menyala-nyala Kyai Ketaqwaan menyangkal : “Dari dahulu bangsa kita juga belum pernah hidup dengan kesejahteraan yang merata, tetapi kita bisa damai selama ini. Sedangkaan negara-negara kaya lainnya justeru seringkali mengalami perang saudara karena saling berebut kekayaan yang selalu akan dirasa kurang dan kurang bagi tiap-tiap individunya. Ketaqwaan pada Tuhanlah yang akan membimbing rakyat pada kedamaian walau dengan kondisi yang bagaimanapun, untuk itu maka binalah ketaqwaan rakyat”.
Bikhsu Silaturahmi tidak sependapat dengan rekanya sesama agamais kali ini, ia berdalih : “Ketaqwaan itu merupakan tuntunan hubungan rakyat dengan Tuhannya dan bukan dengan sesamanya. Potensi perseteruan akan tetap ada, kecenderungan untuk bermusuhan tidak akan cukup terbendung hanya dengan ketaqwaan saja. Bukan tidak mungkin justeru dengan dasar ketaqwaanlah suatu golongan akan memusuhi yang tidak segolongan dengannya, sebab ketaqwaan itu berbeda-beda sesuai dengan syariat kepercayaan masing-masing penganutnya. Yang paling efektif untuk membendung perpecahan hanyalah Silaturahmi, dengan cara inilah maka segala perbedaan akan terjembatani sehingga tidak akan berujung pada perseteruan”.
Guru besar Kebangsaan sebagai “Founding fathers” yang telah bau tanah harus angkat bicara walau dengan terpatah-patah : “Negara Damai ini terbentuk karena rasa kebangsaan di hati kita, kita ini satu. Rasa kesatuan itu didasari oleh tujuan yang sama dari nurani kita, yaitu menginginkan kedamaian. Satu kata kunci untuk kedamaian adalah rasa Persatuan”.
Bapak Kebajikan sumbang saran : “Kita harus berpikir berpikir secara Objektif, Sistematis, Komprehensif dan Integral. Secara objektif, mari kita mulai dari sumber permasalahannya (tanpa memperluasnya) yaitu ketiadaan kata “M”. Lalu secara sistematis terkait dengan akibat-akibat yang timbul yaitu tiada lagi “M” di antara kita. Kemudian secara komprehensif kita harus menelaah sebab apa kita butuh kata “M” dan “M” itu sendiri dia antara kita. Jika dari sini kita berangkat maka tentunya kita butuh kata “M” karena kesalahan yang ada pada perbuatan kita. Akhirnya secara integral kita harus kembali kepada diri kita masing-masing. Wujudkanlah Kesejahteraan, Perkuatlah Ketaqwaan, Pereratlah Silaturahmi, Bangunlah Persatuan; Dan terakhir tambahan saya, Perbaikilah Prilaku dan Budi Pekerti.
Dengan kebijakan itu kemudian rapat ditutup oleh Presiden Kedamaian. Namun setelah melalui sosialisasi yang intensif, pola penerapan yang ketat dan pengawasan yang terorganisir, kedamaian semakin jauh dari negara itu. Akhirnya rapat mendadak harus kembali diselenggarakan. Tapi kali ini para pejabat yang bijak, kaum ulama yang saleh, pakar cendikia yang cerdik tidak ada yang bersuara. Tampaknya semua kehabisan akal.
Dalam suasana genting itulah Ketua Dewan Utusan Rakyat bercerita : “Ada suatu desa di negara Damai yang kedamaiannya tetap terjaga, kedamaian tidak terganggu sejak adanya atau hingga tiadanya kata “M”. Untuk itu saya membawa sang Kepala Desa Ikhlas”.
Begitu Kepala Desa Ikhlas masuk, Presiden Kedamaian langsung bertanya : ”Apa yang telah kamu lakukan sehingga masyarakatmu tetap damai Saudaraku?”. Kepala Desa hanya menjawab : “Menjalankan amanah Bapak Presiden, Wujudkan Kesejahteraan, Perkuat Ketaqwaan, Pererat Silaturahmi, Bangun Persatuan; Dan terakhir Perbaiki Prilaku dan Budi Pekerti”.
Presiden Kedamaian takjub, ia bertanya lagi : “Berhasilkah Saudara melakukan itu?” Kepala Desa menjawab dengan sama lugasnya : “Tidak Pak, itu semua tidak mungkin berhasil dilakukan, itu semua hanya hiasan surga dan bukan tempatnya di sini untuk terwujudnya semua hal itu ”. Presiden semakin keheranan, “Lalu apa yang telah membuat mereka semua dapat hidup damai ?”.
“Keihklasan Pak, hanya keikhlasan. Sejak kata “M” hilang maka kami mencari hakekat dari “M” itu sendiri. Manusia bukanlah mahkluk sempurna, kesalahan senatiasa menjadi hiasannya, kodratnya. Dengan menyadari hakekat manusia itulah maka akan timbul keihklasan di antara kami. Kesalahan, perbedaan dan segala pertentangan akan pudar dengan sendirinya dengan keihklasan dan kesadaran bahwa kita semua sama-sama manusia, sama-sama selalu lemah dan salah. Dengan keihklasan itu maka walaupun tanpa ada kata “M” di antara kami, “M” tetap akan ada, Kedamaian akan tetap ada”.